Posted by: gafisthree | November 7, 2009

Mengapa Aku Jadi Petani?

bibit_padi

Padi Siap Ditanam

[gafisthree-Ifan Zahari] Selepas SMA tahun 90 aku ke Bandung, rencananya mau kuliah, aku ngambil TMI Unisba, tapi dasarnya ngga bakat kuliah, akhirnya hancur semuanya. Tanggal 18 April 1996 aku cabut ke Yogya, 3 tahun disana jadi pengangguran. Setelah pikiran dan jiwaku letih dengan tidak menjadi apa-apa, pada akhir september 1999 aku pulang ke Lampung (tempat keluargaku tinggal), belum sampai dua minggu aku dirumah, aku ditawari oleh Abang Iparku untuk kerja borong perkebunan kelapa sawit seluas 1600 hektar di Sumbar (tempatku skrg), Baru nyampe disana aku sangat kaget, untuk mencapai lokasi saja dibutuhkan waktu 4 jam jalan tanah yang berlubang-lubang, daerahnya masih hutan belantara, kampung terdekat kira-kira 5 Km berjalan kaki, Borongan kelar di akhir tahun 2000, ditahun itu pula aku menikahi wanita dari kampung yang dekat dengan lokasi boronganku, pilihan menikahi wanita tsb membuat hubunganku dengan keluargaku agak bermasalah (terutama IBUku), karena beliau mungkin sudah mempersiapkan gadis lain untuk jodohnya, dan mulai saat itu aku tinggal di Kampung isteriku sampai sekarang, yang mata pencahariannya masyarakatnya adalah petani. Dikarenakan mungkin aku punya latar belakang pendidikan (walaupun SMA), masyarakat setempat memberiku peluang untuk bersama-sama mereka membangun kampung mereka.

Gharin

Gharin, sebuah jabatan yang jauh dari dari kata “Bonafide” untuk sebuah status profesi dimasyarakat. Tapi gharin merupakan sebuah jabatan sakral dikampungku. Untuk menjadi seorang gharin memang tidak memerlukan menjalani sebuah proses “fit and profer test” tapi menjadi seorang gharin adalah sebuah jabatan turun menurun yang tidak sembarang orang bisa memangkunya. Dikampungku, Gharin di dalam struktur kepengurusan Masjid masuk dalam “Malin Ampek Musajik” artinya Ulama Masjid yang berjumlah empat orang. Selain Gharin, didalam struktur Malin Ompek Musajik tercantum Angku Imam, Angku Khatib, Angku Bilal. Keempat orang tersebut mempunyai fungsi dan jabatan yang sama berpengaruh didalam hirarki Masjid dikampungku. Tetapi didalam kesehariannya, tugas dan tanggung jawab seorang Gharin sangatlah bertolak belakang dari ketiga rekannya di dalam kepengurusan Masjid. Contohnya tugas seorang Angku Imam tentunya mengimami ibadah shalat berjamaah di Masjid. Tugas Angku Khatib tentu saja menjadi penceramah atau membacakan khutbah. Dibidang lain tugas Angku Bilal mengumandangkan Adzan. Sementara tugas seorang Gharin berdasarkan Job dan Description yang tak tertulis yaitu, mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan kelancaran pelaksanaan ibadah shalat atau acara lainnya yang diadakan di Masjid, termasuk menyapu lantai masjid.

Malam ini, kebetulan aku berkesempatan bersebelahan duduk dengan Gharin Masjid dikampungku, setelah pelaksanaan Shalat Tarawih berjamaah seraya menemani beberapa orang pemuda yang melaksanakan Thadarus. Ah… kesempatan langka, pikirku. Akupun mencoba membuka dialog dengan Beliau, “Sudah berapa lama menjadi Gharin, Kek ?”, tanyaku. “Hampir 50 tahun-an”, jawab Beliau singkat. 50 tahun pikirku, sebuah pengabdian pada profesi yang sangat luar biasa. “Iya, sekitar 50 tahun kira-kira Kakek menjadi Gharin, karena waktu menerima jabatan Gharin dari Paman, Kakek waktu itu baru saja menikah, dan kalau tidak salah waktu itu umur kakek lebih kurang 19 tahun-an,” tegas sang Gharin kemudian karena terbaca olehnya sebersit keraguan diwajahku. “Maaf Kek, berapa penghasilan yang didapat menjadi seorang Gharin ?” selidikku. “Ah, berapalah, Kakek diberi jatah 300 padi (kira-kira 150 kg beras : red) setiap tahunnya oleh Ninik Mamak” terang Sang Gharin. “Tapi jabatan ini kan turun temurun, jadi setelah meninggal Paman (Mamak : Minangkabau), Kakek berkewajiban menjalankan jabatan ini,” terangnya kemudian. 150 Kg beras dalam setahun, imajinasiku membayangkan biaya hidup sebuah keluarga dalam sebulan. Ahh.. ironisnya.

“Tapi percayalah rezeki tak berpintu !”

Masjid

Ditempatku, bulan Ramadhan kali ini banyak hal yang menarik perhatianku, diantaranya Masjid, sarana dimana biasanya berlangsung tempat beribadah bagi masyarakat dikampungku yang memiliki penampilan lain dengan dibangunnya pelataran parkir dan sebuah kolam air mancur yang banyak membuat decak kagum orang-orang ditempatku (Akhirnya… Setelah ratusan tahun sejarah kampung ini ada) sebuah kolam air mancur menjadi hot issues yang menggugah perasaanku. Setiap sore banyak anak-anak memanfaatkan sekeliling kolam tersebut untuk bersepeda atau bersenda gurau dengan sesamanya. Adapula pula yang menjadikan kolam air mancur tersebut sebagai background untuk pengambilan foto pribadi walaupun hanya melalui kamera Handphone. Dan yang tak bisa kubayangkan antusias seluruh masyarakat didalam melaksanakan ibadah, khususnya Shalat Tarawih Ramadhan kali ini sungguh mencengangkanku, selalu Full, sampai kepelataran Masjid. “Mudah-mudahan ini bukan merupakan dampak dibangunnya sebuah kolam air mancur.” Amin…

Hot issues : masyarakat ditempatku memperdebatkan bagaimana proses terjadinya air mancur, yang mungkin hingga saat ini hanya beberapa orang saja yang mengerti terjadinya air mancur dan memang sudah menjadi kewajibanku untuk menjelaskan kepada masyarakat dikampungku.

Keramaian shalat Tarawih malam ini sungguh luar biasa, didalam masjid penuh dengan masyarakat yang ingin menjalankan ibadah shalat, sementara diluar (pelataran parkir) berjubel berbagai jenis kendaraan baik roda dua ataupun roda empat, sungguh mengagumkan, untuk seukuran desa yang hanya didiami tidak lebih dari 950 jiwa. Secara sekilas kuperhatikan paling tidak ada 2 mobil baru yang terparkir dengan sangat elegan di sudut barat pelataran parkir, sementara di sebelah timur, sepeda motor yang masih menggunakan plat nomer “Dicoba” setidaknya ada 6 unit, belum lagi kendaraan2 lama yang tak sempat kuhitung jumlahnya.

Sebuah efek dari meningkatnya pendapatan masyarakat berakibat pada pola hidup yang semakin konsumtif, pikirku. Tetapi ada hal yang sangat sederhana yang sangat mengusik pikiranku, yaitu, jarak dari rumah masing-masing individu masyarakat yang berniat melaksanakan shalat tarawih berjamaah yang paling jauh hanya 600 meter dari Masjid, dan malam ini cuaca begitu cerahnya, serta jalan rigit beton menuju Masjid sangat mulus, karena baru 2 tahun belakangan ini dibangun. Mungkin kepenatan setelah bekerja seharian baik disawah maupun dikebun yang membuat masyarakat lebih memilih berkendaraan dari pada berjalan kaki atau ???


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.