
Kehancuran Akibat Tsunami Aceh
[gafisthree-Qarnibal Thamrin] Saya mau bagi cerita seputar tsunami 26 Desember 2004. Jauh sebelumnya di tahun 1990, kami sekeluarga tingga di sebuah rumah sewa di desa Keudah. Saya bersama lima orang adik saya dan Abi dan Umi kami. Di suatu malam setelah satu minggu selesai EBTANAS SMA, adik perempuan Trimarlinda binti Thamrin Buyung (di bawah saya) yang baru satu hari ikut EBTANAS meninggal dunia karena tabrakan di depan toko cat Polimas simpang Jalan WR Supratman dan RA Kartini di Pasar Peunayong, tanggal 14 Mei 1990.
Akhir dari peristiwa tersebut keluarga kami berdamai dengan pihak penabrak tersebut dan kami diberikan sejumlah uang duka. Untuk mengenang pengorbanan almarhumah adinda kami tersebut, maka sekeluarga sepakat untuk membeli tanah untuk tempat tinggal sekeluarga kami yang baru di sebuah kampung yaitu Lampeunerut Ujong Blang (Kampungnya M Yahya Yatim Anggota Kopassus mantan Siswa III FISIK II SMA Neg. Banda Aceh). Kebetulan kami berhubungan juga secara jauh dari garis Umi/Ibu saya.
Keluarga besar Bapak saya bingung melihat kami dan ada banyak komentar miring tentang kepindahan kami kembali ke desa. Katanya, orang semuanya pindah dari desa ke kota, tapi kalian kok sebaliknya. Ini pertanda kemunduran. Tapi kami berprinsip, anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Karena terlalu ke kampung, tempat kami jarangĀ jadi tempat kumpul keluarga besar.
Tapi tanggal 26 Desember 2004 Allah SWT merubah segalanya, maha tsunami melanda Aceh, Asia Selatan dan pantai timur Afrika. Mungkin lebih dari 300 ribu nyawa melayang (lebih dahsyat dari Hiroshima & Nagasaki yang cuma menelan 175 ribu nyawa), termasuk 66 orang keuarga Ayah dan Ibu saya.
Tempat tinggal sewaan kami dulu hancur berkeping-keping dan keluarga ayah saya yang berpadangan miring itupun ikut jadi korban. Hanya tersisa satu rumah tempat berkumpul walaupun sudah diguncang Gempa 9.8 SR selama 15 menit (900 detik) – rumah kami, yaitu rumah kami di kampung Lampueunerut masih kokoh berdiri…Subhanallah!!! Dan saat ini jadi markas komando/tempat kumpul semua sanak famili dari luar kota jika datang ke Banda Aceh
Hikmah dari semuanya itu saya tarik kesimpulan, musibah yang diberikan Allah tanggal 14 Mei 1990, telah diberikan balasan yang lebih mulia oleh Allah setelah tsumani 26 Desember 2004. Banyangkan jika masih tinggal di rumah sewa tersebut mungkin kisah ini tidak pernah ada untuk saya ceritakan.
Orang bilang : ‘Dibalik sebuah musibah ada hikmah mengiringinya’
By: Ifan Zahari on November 8, 2009
at 12:07 pm